Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di Indonesia yang Saling Terikat

KOMPAS.com – Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Menparekraf) Sandiaga Uno mengatakan, pariwisata dan ekonomi kreatif hampir selalu dipertemukan dari setiap sudut. “Pertama, kita berpariwisata itu, begitu tiba, the site, the sound, the feel, the smell, the taste, the vibrations, the resonancy, semuanya dengan produk ekonomi kreatif,” ujar dia.

 

Hal tersebut disampaikan oleh Sandiaga dalam BEGINU Season 2 Episode 8 bertajuk “Sandiaga Uno, Bola Basket dan Pengalaman Berkali-kali Jatuh dan Bangkit” yang diunggah dalam akun YouTube Kompas.com, Senin (26/4/2021). Selain itu, kuliner dan musik yang disuguhkan suatu destinasi wisata kepada para wisatawan juga mengandung unsur ekonomi kreatif. Sebagai contoh, saat melancong ke Bali, Sandiaga mengungkapkan bahwa hal yang paling dikangeni olehnya adalah suara gamelan dan tariannya.

 

“Smell-nya produk ekonomi kreatif. Makanannya, nasi Bali, sate lilit, bebek tepi sawah, dan sebagainya (produk ekonomi kreatif),” tuturnya. Lebih lanjut, Sandiaga mengatakan bahwa pariwisata bukan hanya keindahan alamnya saja namun juga budaya. Hikmah di balik pandemi, kualitas lebih dikejar Sandiaga mengatakan bahwa pariwisata Indonesia berkontribusi sekitar empat persen terhadap produk domestik bruto (PDB) Indonesia. Jika dibandingkan dengan Thailand dan Filipina, angkat tersebut terbilang cukup jauh lantaran menurut Sandiaga sektor pariwisata kedua negara tersebut berkontribusi lebih dari 10 persen terhadap PDB negara masing-masing.

 

“Kalau ekonomi kreatif, kita nomor tiga di dunia setelah Amerika dengan Hollywood dan Korea dengan K-Pop. Ekonomi kreatif sudah punya runway yang bagus, tinggal gimana pariwisatanya,” ucap Sandiaga.

 

“Bayangan saya (saat) dua sektor ini digabungkan, kalau bisa mencapai kontribusi PDB 15-20 persen, merupakan satu pencapaian yang baik buat kami di kementerian,” imbuhnya.

 

Selama pandemi Covid-19 berlangsung, dia mengatakan bahwa ternyata ada hikmah yang diberikan terhadap pariwisata. Sebab, jika menilik pada masa sebelum Sandiaga menjabat sebagai Menparekraf, pariwisata Nusantara terlalu fokus dalam mengejar kuantitas yang kalah dengan Thailand dan Malaysia. “Sekarang, kita pikir mungkin bukan kuantitas tapi kualitas yang harus kita kejar. Lama tinggalnya wisatawan di Indonesia, bagaimana dampak positifnya terhadap lingkungan, sosial, dan dunia usaha kita dengan mengonsumsi produk-produk ekonomi kreatif kita,” jelasnya. Baca juga: Puas Jelajah Nglanggeran, Saatnya Beli Topeng dan Santap Ingkung Ayam Dengan mengejar dari sisi kualitas, Sandiaga tidak menampik bahwa wisatawan akan kembali ke negaranya dengan cerita soal Indonesia yang penuh akan nuansa positif dan kesan yang mendalam. Jika diibaratkan, Sandiaga mengatakan bahwa mereka datang sebagai seorang turis namun pulang sebagai keluarga dari Indonesia. “Menurut saya harusnya kita mulai tata ulang di tengah-tengah (pandemi),” pungkas dia.

https://travel.kompas.com/read/2021/04/28/200300627/pariwisata-dan-ekonomi-kreatif-di-indonesia-yang-saling-terikat?page=2.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *